Diyakini Pelaku Serangan Bom di Gereja Katolik di Filipina 'Tiru' Aksi di Surabaya
Pengamat terorisme meyakini pelaku
serangan bom bunuh diri di satu gereja Katolik di Jolo, Filipina selatan,
meniru aksi serupa di Surabaya, Jawa Timur.
![]() |
| Para pelayat mengiringi mobil jenazah korban bom gereja Katolik di Jolo, Provinsi Sulu. |
"Pasangan yang melakukan serangan
bom bunuh diri ingin mengajarkan kepada orang-orang di Mindanao, bahwa
melakukan serangan harus dengan cara paling ekstrem yaitu bom bunuh diri
keluarga," ujar Al Chaidar, pengamat terorisme Universitas Malikussaleh,
Lhokseumawe, kepada Quin Pasaribu, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
Pesan yang ingin disampaikan dari
kejadian itu, kata Al Chaidar, adalah "mengajarkan" kepada anggota
kelompok Abu Sayyaf tentang cara melakukan aksi teror yang paling radikal dan
menjadikannya sebagai strategi utama.
Sebab selama ini
kelompok Abu Sayyaf dianggap setengah hati dalam "berjuang" lantaran
menerapkan metode lama; hit and
run(serang dan lari).
Tahun lalu, Surabaya
diguncang bom bunuh diri yang dilakukan pasangan suami dan istri Dita
Oepriarto-Puji Kuswati yang juga mengajak anak-anaknya meledakkan diri di tiga
gereja.
"Sementara di Filipina belum pernah
ada aksi se-ekstrem ini. Jadi ketika mereka mendengar kejadian bom keluarga di
Surabaya, orang-orang Mindanao belum berpikir bahwa mereka bisa melakukan
itu," sambungnya.
Sebelumnya Menteri Dalam Negeri
Filipina, Eduardo Ano, mengatakan dua pelaku bom bunuh diri itu diduga berasal
dari Indonesia yang dibimbing oleh Abu Sayyaf. Dimana kelompok ini telah
disahihkan ISIS sebagai perwakilan komando mereka di wilayah Asia Tenggara pada
2014 lalu.
Kepala Kepolisian Provinsi Sulu, Pablo
Labra, mengatakan beberapa saksi mata menunjuk pria dan perempuan yang mereka
percaya berada di balik pemboman itu.
![]() |
Tentara Filipina memeriksa lokasi ledakan di gereja Katolik pasca
terjadinya dua ledakan besar di dalam gereka.
|
Mengutip para saksi mata, Labra menyebut
saat terjadi pengeboman, pelaku perempuan duduk di dalam gereja, sementara satu
pelaku laki-laki lainnya suaminya keluar.
Perempuan -yang digambarkan memakai
jaket berwarna keabuan- membawa ransel.
Hingga Jumat (01/02) lalu, Labra
mengatakan dua pasang kaki yang penuh luka, tak ada yang mengklaim dan ini
menunjukkan kemungkinan milik pengebom bunuh diri.
Menurut Al Chaidar, jumlah anggota Abu
Sayyaf dari Indonesia semakin banyak dan mayoritas berasal dari Jawa Timur.
Dalam hitungannya empat tahun lalu, ada 200-an kombatan dari Indonesia yang
bergabung.
"Tapi dulu itu hitungannya tanpa
membawa keluarga. Sekarang harus dihitung juga istri mereka, karena pasti
diajak juga. Bayangkan kalau mereka meramaikan teror di Filipina dengan cara
itu, apalagi ditambah mereka melebarkan serangan ke utara, itu akan lebih rumit
lagi," jelasnya.
'Kemenangan
besar'
Sementara itu, ledakan yang menyebabkan
setidaknya 23 orang meninggal dan 100 lainnya luka-luka ini menurut bekas
kombatan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) Filipina, Ali Fauzi, merupakan
"kemenangan besar" bagi kelompok Abu Sayyaf.
Karena itulah, kuat diduga strategi
serupa akan terus dilakukan.
"(Pemboman) kemarin itu dianggap
keberhasilan dengan 20 orang lebih meninggal dan 100 luka-luka. Itu
sangat-sangat berhasil bagi mereka," ujar Ali Fauzi kepada BBC News
Indonesia saat dihubungi pada Senin, (04/02).
Pria yang pernah mendirikan kamp
pelatihan militer MILF di Mindanao, Filipina, bersama Abdul Matin dan Umar Patek
pada 2002 ini juga mengatakan, kuat diduga aksi teror yang terjadi di gereja
Katolik di Pulau Jolo, mengadopsi gaya Dita Oepriarto dari Surabaya.
Tujuannya memengaruhi orang lokal
Filipina untuk mau melakukan hal serupa.
"Kalau kemudian aksi ledakan baru-baru
ini betul dilakukan oleh sepasang suami-istri, berarti membuka ere baru dalam
aksi-aksi teror di Mindanao," katanya.
![]() |
Milisi MILF dan polisi setempat memeriksa bahan peledak yang didapat saat
pertempuran 22 Agustus 2017.
|
Dalam pengamatannya, banyak warga
Indonesia yang memilih bergerilya ke Mindanao, lantaran kian sulitnya mereka
bergerak di dalam negeri.
Detasemen Khusus 88 Antiteror gencar
memantau dan menangkap para simpatisan. Sementara pilihan ke Suriah atau Irak,
mustahil dilakukan karena jalurnya kian terkunci.
Berbeda dengan Mindanao yang jalur
tikusnya masih terbuka dan pasar gelap persenjataan di Filipina bisa
menyediakan bahan-bahan peledak termasuk senjata cukup banyak dan mudah
didapat.
"Jadi jalan yang dekat dan mudah
yaitu daratan di Filipina selatan. Sebab belajar menembak, membom, adalah
bagian dari kewajiban. Ada lahan yang bisa digunakan untuk berlatih ya
Mindanao."
Hal serupa juga disampaikan pengamat
terorisme, Al Chaidar. Kata dia, di Filipina kegiatan semacam pengajian
cenderung lebih bebas dan terbuka ketimbang di Indonesia.
"Kalau di Indonesia kan
pengajian-pengajian seperti itu dipantau terus," ungkapnya.
Filipina diminta tak buru-buru sebut pelaku WNI
![]() |
Aparat
keamanan Filipina mengamankan lokasi ledakan bom bunuh diri di Gereja Katolik.
|
Di tempat terpisah, Menteri Politik
Hukum dan Keamanan, Wiranto, menyebut pemerintah belum bisa memastikan terduga
pelaku bom bunuh diri di gereja Katolik di Pulau Jolo merupakan sepasang suami
istri warga negara Indonesia.
Ia meminta Filipina tidak terburu-buru
menyebut pelakunya sebagai WNI.
"Saat ini kan ada cukup ramai
tuduhan dari pihak Filipina, terutama Menteri Dalam Negeri bahwa ada
keterlibatan WNI dalam aksi teror di Filipina. Di sini saya menyampaikan bahwa
itu berita sepihak," kata Wiranto di kantornya di Jakarta, Senin (04/02).
Wiranto juga menjelaskan koordinasi
antarkedua negara terkait kasus tersebut masih berlangsung. Akan tetapi untuk
memastikan identitas pelaku menjadi kewenangan Filipina.
"Itu masih otoritas Filipina,
kepolisian, pihak yang bersangkutan dalam masalah terorisme," sambungnya
sembari menyebut Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kementerian
Luar Negeri masih melakukan pengecekan serta terus berkoordinasi dengan
otoritas terkait.
Direktur Deradikalisasi Badan
Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irfan Idris, tak menampik masih adanya warga
Indonesia yang bergabung dengan kelompok terorisme di Mindanao, Filipina.
Meski upaya pencegahan seperti pemberian
pemahaman agar tak berbaur dengan kelompok radikal sudah dijalankan, tapi hal
itu tidak mudah.
"Kalau kami selalu beri pemahaman
supaya jangan mudah berbaur dengan mereka meskipun itu lewat online,
ajakan-ajaknnya," ujar Irfan.
Dikutip/Sumber: bbc.com




Posting Komentar untuk "Diyakini Pelaku Serangan Bom di Gereja Katolik di Filipina 'Tiru' Aksi di Surabaya"